{"id":64,"date":"2017-11-06T06:23:21","date_gmt":"2017-11-06T06:23:21","guid":{"rendered":"https:\/\/silatsundainstitute.org\/Berita\/?p=64"},"modified":"2023-11-07T02:04:32","modified_gmt":"2023-11-07T02:04:32","slug":"2nd-international-pencak-silat-training-camp-2017","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/silatsundainstitute.org\/Berita\/2017\/11\/06\/2nd-international-pencak-silat-training-camp-2017\/","title":{"rendered":"2nd International Pencak Silat Training Camp 2017"},"content":{"rendered":"\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Silat Sunda Institute kembali menggelar International Pencak Silat Training Camp ke-2 di pelataran Rumah Bosscha Perkebunan Agrowisata Malabar, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung pada 14 \u2013 21 Mei 2017. Pendiri Silat Sunda Institute, Roedy M.Wiranatakusumah mengatakan Pencak Silat Camp pertama yang digelar pada November 2016.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPencak silat camp ini mendatangkan para pesilat luar negeri seperti dari Eropa, Amerika dan Kanada selain dari Indonesia sendiri. Para peserta Pencak Silat Camp kedua ini nantinya akan mengikuti ASIAN Festivals pada Juli 2017 di Kota Sofia, Bulgaria,\u201d terang Roedy kepada Balebandung.com, Minggu (21\/5\/17) .<\/p>\n\n\n\n<p>Roedy menilai kegiatan ini merupakan misi budayanya sehingga mampu mendatangkan puluhan pesilat asing dari Iceland, Belgia, Inggris, Belanda, Italia, Amerika, Kanada, Filipina dan Singapura, selain Indonesia sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIni juga untuk mengangkat nilai kekayaan budaya leluhur dan kearifan lokal Indonesia, agar bisa dimaknai sebagai tuntunan hubungan antar sesama,\u201d kata Roedy yang berprofesi sebagai advokat maritim ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya melestarikan Pencak Silat adalah bagian dari identitas budaya untuk generasi muda, dalam meningkatkan nilai kebangsaan dengan kepribadian yang tangguh.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSeseorang yang memiliki pribadi yang tangguh merupakan aset bagi kehidupan di lingkungannya dan pemberi manfaat untuk sesama, karena itu ,mari kita berlatih Pencak Silat,\u201d kata Roedy.<\/p>\n\n\n\n<iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.facebook.com\/plugins\/post.php?href=https%3A%2F%2Fweb.facebook.com%2FSilatSundaInstitute%2Fphotos%2Fa.1783645261911991%2F1916626481947201%2F%3Ftype%3D3&#038;show_text=true&#038;width=500\" width=\"500\" height=\"250\" style=\"border:none;overflow:hidden\" scrolling=\"no\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"true\" allow=\"autoplay; clipboard-write; encrypted-media; picture-in-picture; web-share\"><\/iframe>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Silat Sunda Institute kembali menggelar International Pencak Silat Training Camp ke-2 di pelataran Rumah Bosscha Perkebunan Agrowisata Malabar, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung pada 14 \u2013 21 Mei 2017. Pendiri Silat Sunda Institute, Roedy M.Wiranatakusumah mengatakan Pencak Silat Camp pertama yang digelar pada November 2016. \u201cPencak silat camp ini mendatangkan para pesilat luar negeri seperti dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":70,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-64","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/silatsundainstitute.org\/Berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/silatsundainstitute.org\/Berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/silatsundainstitute.org\/Berita\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/silatsundainstitute.org\/Berita\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/silatsundainstitute.org\/Berita\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=64"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/silatsundainstitute.org\/Berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":77,"href":"https:\/\/silatsundainstitute.org\/Berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64\/revisions\/77"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/silatsundainstitute.org\/Berita\/wp-json\/wp\/v2\/media\/70"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/silatsundainstitute.org\/Berita\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=64"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/silatsundainstitute.org\/Berita\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=64"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/silatsundainstitute.org\/Berita\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=64"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}